Be Your Inspiration

Monday, 30 January 2017

Telkomsel Gelar Layanan 4G LTE di KEK Mandalika

 
Jaringan 4G Telkomsel di kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Lombok Tengah NTB
Dalam upaya mendukung pemerintah dalam mempromosikan pariwisata Indonesia, Telkomsel menggelar layanan 4G LTE di Kawasan EKonomi Khusus (KEK) Mandalika Kuta, Lombok Tengah. Hadirnya jaringan seluler berbasis teknologi terkini tersebut merupakan bagian dari rangkaian optimalisasi jaringan yang dilakukan untuk mengakomodasi tingginya kebutuhan wisatawan yang aktif menggunakan layanan komunikasi selama berada di Mandalika, yang merupakan salah satu destinasi pariwisata nasional.

“Kehadiran infrastruktur telekomunikasi yang berkualitas sangat penting dalam menunjang potensi wisata suatu daerah. Untuk itu, kami telah menggelar jaringan 4G LTE berkualitas untuk mempermudah wisatawan yang ingin berbagi dan menyebarkan eksotisme Mandalika ke seluruh dunia. Kami berharap kehadiran layanan 4G LTE mampu menarik semakin banyak wisatawan untuk berkunjung langsung menikmati keindahan lokasi wisata ini. Inilah wujud nyata dukungan Telkomsel dalam membangun industri pariwisata Tanah Air,” kata Direktur Network Telkomsel Sukardi Silalahi dalam siaran pers yang diterima, Minggu (29/1/2017).

Saat ini layanan 4G Telkomsel telah menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Mandalika yang di antaranya meliputi Pantai Kuta, Pantai Serenting, Pantai Tanjung Aan, Pantai Keliuw dan Pantai Gerupuk. Secara total layanan 4G Telkomsel telah menjangkau lebih dari 70 persen wilayah populasi Lombok, termasuk Kota Mataram dan Senggigi.

“Pertumbuhan penggunaan layanan data yang mencapai lebih dari 100% pada tahun lalu di wilayah Lombok menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan data yang berkualitas. Kami harapkan layanan komunikasi berkualitas yang kami hadirkan di daerah Lombok dan sekitarnya mampu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sehingga mempercepat pertumbuhan perekonomian di wilayah ini,” imbuhnya.

Selain Mandalika, Telkomsel juga melakukan optimalisasi jaringan di 11 destinasi wisata utama Indonesia lainnya, yakni Borobudur (Jawa Tengah), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Toba (Sumatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Tanjung Lesung (Banten), Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Bunaken (Sulawesi Utara), dan Raja Ampat (Papua Barat).

Optimalisasi jaringan tersebut antara lain membangun BTS 4G baru, meng-upgrade BTS existing menjadi BTS 4G, menambah kapasitas transmisi jaringan, serta memperluas jangkauan jaringan. Telkomsel juga selalu melakukan monitoring kualitas jaringan secara rutin, bahkan mengoperasikan compact mobile base station (Combat) untuk memperkuat jaringan pada saat digelarnya event-event berskala nasional dan internasional yang dipusatkan di kawasan wisata.

Dalam beberapa tahun terakhir, Telkomsel juga selalu mendukung kebutuhan komunikasi berbagai event pariwisata berskala internasional, seperti Sail Wakatobi-Belitong 2011, Sail Morotai 2012, Sail Komodo 2013, Sail Raja Ampat 2014, Sail Tomini 2015, dan terakhir Sail Selat Karimata 2016 yang berlangsung pada pertengahan bulan Oktober 2016 yang lalu. Hal ini sekaligus membuktikan konsistensi pembangunan jaringan yang dilakukan oleh Telkomsel ke berbagai lokasi, bahkan hingga ke daerah pelosok, agar masyarakat bisa tetap terhubung.

Selain di 12 destinasi wisata utama, Telkomsel juga melakukan maintenance kualitas jaringan secara rutin di ratusan lokasi wisata mulai dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, termasuk menggelar kegiatan True Broadband Experience (TrueBEx). Menggunakan perangkat bernama Mobile Quality Agent (MQA), pengujian yang dilakukan untuk mengukur kecepatan akses data broadband Telkomsel dalam TrueBEx di antaranya aktivasi paket melalui menu *363# dan aplikasi My Telkomsel, browsing portal berita online, uploading status dan foto di media sosial, High-Definition (HD) video streaming, pengiriman foto melalui aplikasi pesan instan, serta pengecekan kecepatan akses data melalui aplikasi speedtest. (r)
Share:

Dialokasikan Rp 1 Miliar, Himbara dan ITDC Bangun Balkondes di Sengkol Lombok Tengah

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas (kiri) berbincang dengan penjual kain tenun Sasak di Desa Wisata Sasak Ende Desa Sengkol Kecamatan Pujut Lombok Tengah

PERBANKAN yang tergabung dalam Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) di antaranya Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN bekerjasama dengan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia, membangun Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Wisata di Dusun Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut Lombok Tengah.
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan pembangunan balkondes ini tidak lain merupakan wujud dari sumbangsih BUMN hadir untuk negeri dalam memperkuat dukungan pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya di daerah wisata.
Sebagaimana diketahui, KEK Mandalika sebagai bagian dari 10 dari destinasi wisata nasional yang menjadi prioritas pengembangan oleh pemerintahan Jokowi-JK. Kawasan ini diharapkan dapat mendorong potensi desa wisata di sekitar kawasan Mandalika menjadi lebih berkembang.
"Melalui pembangunan balkondes ini, kami berharap masyarakat menjadi lebih terbantu dan dapat meningkatkan usahanya," kata Kartika Wirjoatmodjo, Jumat (27/1/2017).
Untuk pembangunan balkondes ini, Bank Mandiri mengalokasikan Rp1 miliar. Nantinya, balkondes, dikelola secara profesional yang dilengkapi dengan homestay. Tidak hanya itu, di balai ekonomi ini juga dipamerkan produk suvenir, makanan dan produk lainnya yang merupakan hasil kreasi masyarakat desa.
Balai ini juga memiliki tempat pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas masyarakat desa agar mampu mengelola dengan baik potensi-potensi yang terdapat di desa tersebut.
Di Lombok, pengelolaan balkondes ini akan dikelola PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau PT Indonesia Tourism Development Corporation (PT ITDC).
Menurut Kartika, sebelum di Lombok, Bank Mandiri telah membangun balkondes di sekitar desa-desa Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah yang dikelola PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko (Persero).
Melalui balkondes ini, Bank Mandiri juga akan melaksanakan proses pembinaan secara berkelanjutan. Terutama, bagaimana masyarakat di desa wisata dapat mengelola dan memasarkan hasil produk yang sudah dihasilkan secara online. Termasuk, melakukan pembayaran dengan non tunai. Sehingga, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan dan pendapatan masyarakat.
Selain membangun balkondes, Bank Mandiri juga memberikan bantuan lainnya sebagai bentuk kepedulian sosial. Di Mandalika, Mandiri menyerahkan 10 unit kapal motor tempel ke kelompok nelayan Desa Sengkol. Selain itu, Mandiri juga membantu merevitalisasi SDN 2 Sembalun Lombok Timur. (Ahmad Bulkaini)
Share:

Lumbung Sasak Lombok Harus Diselamatkan dari Ancaman ‘’Kepunahan’’

Lumbung Lombok yang dipergunakan sebagai tempat tinggal atau tempat usaha. 
Lumbung Sasak saat ini terasa sangat sulit sekali ditemukan. Bangunan lumbung yang menjadi ciri khas Suku Sasak kini semakin terancam punah. Alasan inilah yang membuat M. Zohriyadi Razak, seorang pemuda kreatif asal Repok Daya Desa Masbagik Utara Kecamatan Masbagik mencoba menyelamatkan lumbung Sasak dari kepunahan.

Ditemui di rumahnya, Sabtu (22/1/2017) lalu, ia menguraikan, semenjak beberapa tahun terakhir ini ia menggeluti kerajinan pembuatan lumbung. Kegiatannya ini pun mendapat respons baik di pasar. Alhasil, produk lumbung yang dibuatnya kini sudah dipasarkan ke sejumlah daerah. “Yang sudah  membeli dari Malang dan Surabaya Jawa Timur,” klaimnya.

Tidak terkecuali, lanjutnya, masyarakat sekitar Desa Masbagik Utara yang juga tertarik dengan Lumbung Karya Razak. Mantan karyawan PT BAT yang banting setir menjadi perajin lumbung ini mengaku ingin mengembalikan lumbung sebagai salah satu simbol kecerdasan masyarakat Suku Sasak.

Dia katakan, bentuk bangunan Lumbung yang sebagian besar bahannya dari kayu nangka dengan atap daun ilalang ini ternyata memperlihatkan arsitektur yang sangat andal. Bahkan dalam pandangan Razak ini masyarakat Suku Sasak sudah memiliki gaya arsitektur menyamai bangunan-bangunan megah di Eropa.

Seni arsitek lumbung terlihat dari bentuk tiang lumbung berbentuk bulat, adanya jelepeng yang berbentuk lingkaran dan terpatri dengan sangat apik. Sepengetahuannya, arsitek lumbung ala masyarakat Sasak zaman dahulu ini membuat lumbung dengan peralatan yang sangat sederhana.

Pilihan kayunya pun mengedepankan kearifan lokal. Tidak menggunakan kayu hutan. Melainkan kayu nangka yang banyak ditemukan di kebun-kebun warga. “Kayu nangka ini terbilang unik, selain kuat dan usianya bisa sampai ratusan tahun, kayu nangka juga tidak bisa dimakan rayap,” ungkapnya.

Ketertarikan Razak pada lumbung, tuturnya karena besar kecilnya dulu di bawah lumbung. Belakangan, lumbung yang juga dikenal sebagai tempat penyimpanan gabah hasil panen ini terbilang hanya bisa ditemukan di kampung-kampung adat.

Eksistensi lumbung, lanjutnya harus dikembalikan. Generasi penerus Suku Sasak setidaknya tidak hanya mengetahui lumbung dari cerita. Tapi benar-benar mengetahui dengan melihat bentuk fisik.


Dari beberapa karya lumbung yang sudah dibuat, cukup banyak yang minat meski harganya terbilang cukup mahal. Satu lumbung dihargakan Rp 30-40 juta. Tergantung besar kecilnya, bahkan ada yang harganya tembus sampai mendekati Rp 100 juta. Pada salah satu karyanya, Razak memberikan sentuhan modern, karena di atasnya dijadikan tempat tidur. (Rusliadi Lombok Timur)
Share:

Suzuki Luncurkan ‘’New Carry Pick Up’’ di Lombok

Suzuki Luncurkan ‘’New Carry Pick Up’’ di Dealer Cakra Mobilindo Sweta Kota Mataram NTB

MENGAWALI tahun 2017, PT. Cakra Mobilindo (CM) selaku Main Dealer Suzuki 4W area NTB meluncurkan produk terbarunya di segmen komersial maupun kendaraan penumpang. Cakra Mobilindo mengenalkan sentuhan baru pada kendaraan komersial andalannya yaitu New Carry Pick Up. Peluncuran berlangsung di Dealer Cakra Mobilindo - Sweta, Sabtu (27/1/2017). New Carry Pick Up ini juga hadir di 35 kota di Indonesia yang akan berlangsung periode 27 Januari hingga 11 Februari 2017.

Direktur PT. Cakra Mobilindo Johanes Johan Tjandra  menyatakan, pihaknya memberikan berbagai penyegaran untuk memperkuat konsep New Carry Pick Up sebagai kendaraan komersial yang tangguh dan dapat diandalkan oleh pengusaha-pengusaha di NTB.
Penyegaran di New Carry Pick Up meliputi beberapa bagian. Pada bagian eksterior mengalami perubahan, seperti terllihat pada emblem Carry yang lebih modern dengan desain baru dan juga new front grille and logo yang meningkatkan tampilan New Carry Pick Up. Kesan tangguh juga semakin diperkuat dengan penambahan New Front Under Guard di bagian depan, membuat New Carry Pick Up siap mengarungi berbagai medan untuk menggerakan roda perekonomian.

Beralih ke bagian samping, pada pintu bagian penumpang ditambahkan lubang kunci untuk memudahkan akses keluar masuk penumpang. Ditambah New Design Sticker di bagian bak yang menjadikan tampilan lebih sporty. Bergerak ke bagian interior, perbedaan terletak pada New Door Trim Color, New Seat Color dan juga penambahan Driver Assist Grip yang menambah kenyamanan dari New Carry Pick Up. Selain itu terdapat pula pilihan warna baru yaitu silver, menjadikan New Carry semakin terdepan.

Dari sisi mesin, Suzuki New Carry Pick-Up dibekali dengan mesin G15A berkapasitas 1.493 CC, 4 silinder, 16 valve, MPI (Multi Poin Injection) yang mampu menghasilkan tenaga maksimum 78.8 PS pada putaran 5.500 rpm dan torsi maksimum 120 Nm/3.000 rpm, sehingga mesin tetap halus dan bertenaga, namun irit konsumsi bahan bakar.

Suzuki Carry Pick-Up hadir sejak 40 tahun lalu dan membantu menggerakkan roda perekonomian daerah. Dari generasi ke generasi, Carry Pick-Up dipilih oleh para pelaku usaha sebagai armada angkut yang andal dan irit. Didukung dengan jaringan servis dan spare parts yang baik, serta harga jual kembalinya yang tinggi, menjadikan pick up Suzuki sebagai armada usaha dan investasi yang menguntungkan.

Keunggulan-keunggulan tersebut juga terlihat dari total penjualan kendaraan komersial Suzuki. Selama periode Januari-Desember 2016 , Suzuki berhasil meraih penjualan sebesar 70 % dari total market komersial low NTB. “Kami menghadirkan Suzuki New Carry Pick Up untuk memberikan penyegaran pada line up kendaraan komersial kami. Sebagai market leader di kelasnya New Carry Pick Up diharapkan dapat terus diminati oleh para pengusaha-pengusaha di NTB,” tutup Johan.

New Carry pick up akan dijual dengan harga Rp. 141 juta untuk varian Flat Deck dan Rp 144 juta untuk varian Wide Deck. (Faris/Ekbis NTB)
Share:

Ini Baru Keren... Meja dan Kursi dari Gerabah Khas Penujak Lombok Tengah

Meja dan kursi dari gerabah produksi Penujak Lombok Tengah

Mendengar kata gerabah, yang terbayang di benak kita adalah ceret, guci, tembikar, bong, dan perkakas rumah tangga lainnya. Namun, bagaimana jika ada meja dan kursi yang terbuat dari gerabah? Tentu akan semakin menambah cantik rumah dan ruang tamu kita.
ADALAH Saibi, seorang perajin gerabah di Dusun Adong, Desa Penujak, Praya Barat, Lombok Tengah membuat ide baru dalam segi seni gerabah. Sejak 10 tahun yang lalu, ia mengembangkan ide untuk membuat meja dan kursi dari tanah liat.
“Idenya lihat dari gerabah yang ada yang kuat, terus kepikiran kenapa tidak buat jadi meja dan kursi,” terang Saibi, saat ditemui Ekbis NTB, Jumat (27/1/2017).
Meja dan kursi gerabah dari Penujak Lombok Tengah

Ia menuturkan, pembuatan meja dan kursi ini baru dilakukannya berdua dengan istrinya saja. “Yang buat kursi itu istri saya, tetapi kalau untuk finishing-nya saya yang lakukan,” katanya.
Pembuatan gerabah sendiri, kata Saibi, sudah dilakukannya sejak dahulu di mana keterampilannya diperoleh dengan belajar pada orang lain. Ia menceritakan, keahliannya membuat gerabah ini sudah banyak diakui dan dikenal orang. “Ceret yang ada di Masjid Agung Praya itu, saya dan istri saya yang buat,” klaimnya.
Tetapi, pembuatan produk gerabah meja dan kursi ini belum terlalu banyak dikenal orang. Itu artinya, dirinya membuat produk gerabah meja dan kursi jika ada yang sudah memesan. Meja dan kursi gerabah ini, lanjutnya, cocok digunakan untuk hotel atau untuk bangku-bangku taman. “Pernah ada yang pesan dulu, terus pas saya lihat lagi ternyata bangku dan mejanya masih kuat,” jelasnya.
Pembuatan kursi dan meja dari tanah liat ini sama dengan membuat gerabah yang lain, tetapi hanya berbeda ukurannya saja. “Kita buat ukuran kursinya yang paling itu yang tingginya 40 cm dan yang besar ukurannya 60 cm,” terangnya. Proses pembuatan sampai produk jadi bisa memakan waktu 1 minggu. Hal ini dikarenakan setelah meja dan kursi dibuat, mesti dikeringkan dulu sebelum dibakar. Sedangkan untuk finishingnya hanya membutuhkan waktu yang tidak lama. “Yang lama itu proses pembakarannya, karena mesti dijemur lagi agar hasilnya bagus,” terang Saibi.
Dua perajin sedang duduk di meja dan kursi dari gerabah Penujak Lombok Tengah

Pembakaran dilakukan jika meja dan kursi yang dibuat cukup banyak. Dalam 2 minggu bisa dapat 5 stel kalau cuaca lagi bagus, apalagi penjemuran masih menggunakan panas matahari. Untuk harga meja dan kursi ini, Saibi biasa menjualnya seharga Rp 350 ribu untuk yang ukuran kecil kalau membeli langsung di dirinya. Ada juga yang dihargai Rp 600 ribu untuk meja dan kursi ukuran besar.
Perhatian pemerintah atas produk kerajinan gerabah ini sendiri sudah mulai ada. “Kemarin baru datang bapak-bapak yang datang ke sini untuk melihat. Besok tanggal 13 Februari, mereka akan datang lagi,” kata Saibi.
Turis asing pun sering berkunjung ke tempat produksinya karena penasaran. Bahkan, orang lokal pun banyak yang penasaran dengan produk yang dia buat. Diakuinya, wisatawan mancanegara takut duduk di atas kursi gerabah, karena takut pecah. “Mereka baru mau duduk kalau sudah dikasih contoh. Meja dan kursi ini tidak akan pecah kalau tempatnya rata,” klaimnya.
Saibi berharap, produk gerabah meja dan kursi ini bisa semakin dikenal oleh banyak orang. “Selama ini, turis yang datang cuman kasih uang, karena datang berkunjung bukan karena membeli,” kata Saibi. (Uul/Ekbis NTB)

Share:

Menteri BUMN Rini Soemarno Resmikan Ikon Kuta Mandalika

Menteri BUMN Rini Soemarno bersama jajaran direksi BUMN berpose bersama di bawah ikon Kuta Mandalika

MENTERI BUMN, Rini Soemarno meresmikan Ikon Kuta Mandalika, Jumat (27/1/2017). Di  Mandalika Resort, Kuta Lombok Tengah Club Med telah masuk dan siap melakukan  pembangunan, BUMN akan bergerak mengambil masing-masing peran untuk menambah infrastruktur pendukung, jalan dan air.

Dilakukan pelatihan kepada masyarakat di Mandalika bagaimana menghadapi turis, pedagang asongan, dan pelatihan membuka restoran dan berbagai kegiatan lainnya. Mandalika Resort adalah salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan nasional yang difokuskan percepatannya oleh pemerintah melalui BUMN group. 

Sebelumnya, Menteri BUMN menggelar rapat koordinasi  (rakor) dengan seluruh pimpinan BUMN di Hotel Sentosa Lombok Barat. Kesepakatannya adalah memperkuat sinergi BUMN mendukung seluruh daerah-daerah potensial pariwisata, NTB masuk sebagai daerah perioritas.
Dalam keterangan resminya, menteri mengatakan BUMN akan melakukan sinergi saling mendukung untuk mewujudkan target 12 juta wisatawan tahun ini dan 20 juta wisatawan pada 2019 mendatang secara nasional.
Menteri BUMN, Rini Soemarno didampingi Wagub NTB H. Muh. Amin, Bupati Lombok Tengah H. Suhaili FT dan Direktur Utama ITDC meresmikan ikon Kuta Mandalika. 

“Saya katakan ayo BUMN kita bersinergi, nanti saya juga akan membentuk satgas untuk kita sama-sama berperan aktif menambah wisatawan. Dari group BUMN bisa menambah 3 juta wisatawan hingga akhir 2019,” ujarnya.
Apa detailnya sinergi BUMN, menteri menjelaskan harus dibangun konektivitas dari seluruh wilayah, Garuda di dalamnya akan mengambil peran untuk menyedot turis-turis dari berbagai negara potensial, India, Jepang, Korea, Cina dan Australia, kemudian mendukung pergerakan wisatawan antardaerah-daerah yang menjadi tujuan utama wisatawan.
Lalu daerah-daerah yang infrastruktur pendukungnya belum ada, baik hotel ada transportasinya, Hotel Indonesia Group harus bergerak bersama Aerowisata. BUMN juga mendorong kearifan lokal untuk membangun homestay, perbankan milik pemerintah akan mendukung pembiayaannya.  Selain itu, BUMN juga turut membantu pelatihan-pelatihan bagaimana masyarakat bisa memberikan peyanan kepada wisatawan. “Kita juga memerankan kepada perbankan untuk membiayai restoran, homestay, sehingga target 3 juta yang kita bisa dapatkan,” imbuhnya.
Ditambah lagi, BUMN harus membuat acara-acara besar yang sifatnya internasional. Misalnya membuat acara yang mengundang para pelari-pelari marathon di dunia, sehingga Indonesia lebih dikenal, mengadakan kegiatan golf berskala internasional untuk mendatangkan para  pemilik-pemilik modal besar.
Karena Indonesia adalah negara kepulauan, insya Allah setelah hari raya, kata Rini Sumarno, Kementerian BUMN akan mengoperasikan cruise ship yang keliling di daerah selatan, dari Bali, Labuan Baji, Lombok, Wakatobi, Ternate akan dihubungkan. (Ahmad Bulkaini)



Share:

Friday, 27 January 2017

Penerbangan dari Malaysia ke Lombok International Airport Ditambah

Penyambutan Wisatawan Malaysia di Lombok International Airport 

Penerbangan dari Malaysia ditambah dan mulai beroperasi pada Kamis (26/1/2017). Setiap hari ada tiga penerbangan langsung yang akan mengantar wisatawan dari Malaysia ke NTB. Pada penerbangan perdana Air Asia Indonesia kemarin, setidaknya ada 160 penumpang yang datang dari 180 kursi yang tersedia.
"95 persen yang datang itu adalah wisatawan, ini adalah penerbangan pertama yang cukup bagus dari Air Asia Indonesia menuju Lombok International Airport dari Malaysia," kata General Manager Angkasa Pura I Lombok International Airport I Gusti Ngurah Arditha di Praya, Kamis (26/1/2017).
Tahun ini target kunjungan wisatawan ke NTB mencapai 3,5 juta wisatawan. Sementara itu tidak banyak event nasional yang dapat diselenggarakan seperti pada tahun sebelumnya. Sehingga untuk dapat memenuhi target tersebut dilakukan upaya penambahan penerbangan dari dalam dan luar negeri. Misalnya dari Malaysia, sebelumnya hanya terdapat dua kali penerbangan dalam sehari namun tahun ini menjadi tiga penerbangan.
"Dari Air Asia Indonesia sendiri melihat disini ada pasar, sehingga memutuskan untuk menambah penerbangan langsung dari Malaysia ke LIA. Tentu saja kita menyambut dengan baik," ujarnya.
Arditha mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai persiapan. Termasuk bekerjasama dengan Dinas Pariwisata. Terlihat penyambutan yang dilakukan dengan kesenian Gendang Beleq yang disediakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB di LIA kamis kemarin.
Diketahui bahwa tahun ini target kunjungan wisatawan nusantara sebanyal dua juta wisatawan, dan wisatawan mancangera sebanyak 1,5 juta. Jumlah ini tentu saja tidak sedikit, sebab pada tahun sebelumnya banyak event nasional yang diselenggarakan di NTB sehingga banyak wisatawan yang datang.
“Kita memang tidak lagi menjadi tuan rumah dalam event nasional. Sehingga kita telah mengupayakan untuk menambahpenerbangan dari berbagai daerah dan berbagai negara. semoga ini bisa menambah jumlah kunjungan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB H.L.Moh.Faozal, S.Sos.,M.Si belum lama ini.
Penerbangan langsung dari berbagai daerah yang menjadi langganan wisatawan ke NTB juga akan terus dilakukan. Sehingga dapat mempermudah akses wisatawan ke NTB. Sebab terdapat negara yang potensial untuk mendatangkan wisatawan ke NTB, hanya saja terkendala akomodasi. Cina misalnya, wisatawan asal Cina mendatangi NTB setelah singgah di Bali. Karena belum ada penerbangan langsung dari Cina menuju LIA. (Linggawuni)
Share:

Imlek 2017 di Mataram Lombok, Sederhana dan Penuh Makna

Hiasan lampion berjejer di atas Jalan Pejanggik Cakranegara Mataram, jadi pelengkap kemeriahan perayaan tahun baru Imlek 2017 yang jatuh Sabtu (28/1/2017) . 
Puncak perayaan Hari Raya Imlek 2017 akan berakhir pada 11 Februari 2017. Imlek kali ini dirayakan cukup sederhana. Meski dirayakan sederhana namun perayaan pergantian tahun berdasarkan kalender Marga Tionghoa tahun ini penuh makna.

Pergantian tahun pada kalender Tionghoa diyakini jatuh pada pukul 12.01 Wita. Malam menjelang pelaksanaan upacara persembahyangan di Vihara, seluruh Marga Tionghoa menghimpun segenap keluarga. Seluruh anggota keluarga biasanya berkumpul bersama di lingkungan keluarga besar. Mereka merayakan hari yang istimewa itu dengan memasak dan makan bersama.

“Biasanya memang seperti itu. Menjelang hari H pelaksanaan ibadah, kita sekeluarga sudah kumpul dan makan bersama. Itu sudah menjadi tradisi di kalangan orang keturunan Tionghoa,” ujar Mei In, keturunan Tionghoa yang lahir 1956 dan menetap di Ampenan, Kamis (26/1/2017).

Pernak-pernik Imlek di Golden Tulip Hotel Mataram

Upacara sembahyang penyambutan imlek pada 2017 ini berlangsung sejak Jumat (27/1/2017) . Usai beribadah di wihara – wihara, warga Tionghoa yang merayakan imlek di daerah ini juga biasanya melaksanakan tradisi ching bing. Tradisi ini diwujudkan dalam bentuk kebiasaan mengunjungi makam leluhur.

Kunjungan ke makam – makam dilakukan sebagai bentuk kebaktian maupun penghormatan terhadap leluhurnya masing – masing. Hal itu membuktikan bawah marga Tionghoa selalu patuh dan tunduk pada leluhur mereka.

Perayaan Imlek di Kota Mataram tahun ini tidak semegah helatan imlek tahun 2016 kemarin. Tahun lalu, Imlek di Pulau Lombok dimeriahkan atraksi seni dan budaya yang berasal dari Tiongkok. Marga Tionghoa yang datang ke daerah ini sebagai penampil atraksi, juga berasal dari kalangan umat muslim. Perayaan imlek seperti pada 2016 kemarin, menjadi momen yang ditunggu – tunggu oleh publik.

Puncak perayaan imlek pada 2017 ini akan berlangsung pada 11 Februari 2017. Meski tak semegah imlek tahun lalu, perayaan yang dilakukan pada kesempatan ini juga bukan berarti tak ada agenda hiburannya. Perayaan imlek diisi dengan hiburan wajib yakni atraksi barongsai. Selain itu, akan ada juga perhelatan makam malam dengan menu mie panjang umur.

Perayaan imlek, dari tahun ke tahun selalu diwarnai dengan padatnya aktivitas bakti sosial. Kegiatan bakti sosial dimulai dari agenda donor darah sampai pembagian sembako dan berbagai bentuk kontribusi terhadap publik.  (Sahmat Darmi/Suara NTB)
Share:

VISITOR

YANG SAYANG ANDA LEWATKAN

Blog Archive