![]() |
| Objek wisata paralayang di Bayan. Air sport ini menjadi prioritas pelaku pariwisata di Lombok Utara untuk dikembangkan ke depan. |
Topografi
wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang berbukit dan menjorok ke pantai
menyimpan potensi olahraga paralayang sebagai objek wisata. Sayang, potensi
yang tersedia di tiap kecamatan ini belum tersentuh inovasi program pemerintah.
Ketua
Federasi Airsport Indonesia (FASI) Cabang Paralayang Lombok Utara, Ahmad
Safwan, Jumat (26/4/2019) mengaku berdasarkan potensi, olahraga
paralayang sangat mendukung untuk dikembangkan sebagai objek wisata air sport. Pihaknya bahkan sudah
menjajaki, di mana hampir di tiap kecamatan terdapat titik-titik paralayang
potensial.
"Di
Lombok Utara banyak kami temukan titik paralayang dengan kadar angin
berbeda-beda. Kalau untuk jangka panjang, bisa di kawasan Nipah
(Pemenang)," ujarnya.
Ahmad Safwan
menjelaskan, kawasan Nipah direkomendasikan sebagai program Air Sport jangka panjang karena anginnya
mendukung. Dari bulan Mei sampai Desember, paralayang bisa digelar. Dari aspek
keamanan penyelenggaraan, ia meyakini kondusivitas daerah dan kultur budaya
masyarakat Lombok Utara akan menarik animo wisatawan. FASI bersama komunitas
paralayang sendiri, sudah mencoba penerjunan di lokasi-lokasi yang dijajaki.
Sebagian besar lokasi dinilai aman untuk take-off
dan landing. “Geografisnya cocok,
dan KLU ini aman sekali. Kita harap pemerintah bisa men-support peralatan," harapnya.
Terpisah,
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan KLU, Vidi Ekakusuma, kepada wartawan
mengakui potensi paralayang cukup menjanjikan. Pemda KLU bahkan sudah me-launching objek wisata paralayang, yakni
di Dusun Buani, Desa Benteke, Kecamatan Gangga. Sayangnya, pengelolaan oleh
masyarakat terdampak oleh gempa.
“Kalau
destinasi paralayang, kita akan cari tahu kriteria sisi safety-nya. Kita tanyakan ke masyarakat mereka bersedia mendukung
atau tidak, karena banyak kasus setelah dibangun destinasi ternyata ada
resistensi," ujarnya.
Vidi
menegaskan, destinasi wisata Air Sport yang dibuka pemerintah harus dikelola
dengan baik oleh masyarakat. Ia tidak ingin, program yang dibuka tidak asal
viral sekejap namun tidak mampu berkembang.
Namun
demikian, meski masih dalam tahap penjajakan bukan berarti di sana belum
dilakukan kegiatan. Sejumlah komunitas menurutnya acapkali turun ke lapangan
untuk menguji coba baik dari aspek angin dan keamanan di Nipah, manakala
digunakan untuk olahraga tersebut. Menurutnya, hal inipun bagian dari upaya
dalam rangka mengimbangi pariwisata tiga gili yakni menghadirkan destinasi di
daratan mulai ujung Pemenang hingga Bayan.
Dari sisi
anggaran, Disbudpar Lombok Utara siap mem-back
up penuh namun sekali lagi, dilihat antusias masyarakat. Jika semakin
banyak yang bergeliat untuk paralayang di Lombok Utara, maka pihaknya akan
melakukan intervensi. Bila perlu ke Kementerian untuk mencari sumber anggaran
pendukung lainnya.
“Dari
investor dan masyarakat boleh terlibat investasi di sana, kalau berpotensi
dinas akan lakukan intervensi kita lihat animo dan tidak menutup kemungkinan
akan diteruskan ke kementerian,” pungkasnya. (Johari/Lombok Utara)















