Be Your Inspiration

Tuesday, 1 January 2019

Rute Perth - Lombok akan Kembali Dibuka Maret 2019

Maskapai Jetstar rute Perth - Lombok saat mendarat di LIA, November 2013 lalu. Maret 2019, rute Perth-Lombok akan kembali dibuka dengan maskapai AirAsia.

AWAL Maret 2019, penerbangan langsung Perth, Australia - Lombok kembali dibuka. Namun, penerbangan langsung Perth - Lombok tersebut akan dilayani maskapai AirAsia. 

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc mengatakan, pemerintah pusat terus berupaya menggenjot pertumbuhan sektor pariwisata. Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara baik secara kualitas dan kuantitas terus digenjot.

Gubernur mengatakan, salah satu destinasi wisata di Indonesia yang diunggulkan selain Bali adalah Lombok. Sehingga perhatian pemerintah pusat cukup besar untuk pariwisata  Lombok, NTB.

‘’Salah satunya mulai awal Maret nanti akan ada penerbangan dari Perth Australia ke Lombok secara langsung. Kalau tidak salah pemerintah pusat mem-back up sekitar Rp15 miliar tahun 2019,’’ sebut gubernur di Mataram, Jumat (28/12/2018).


Dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk pembukaan rute Perth - Lombok tersebut untuk membantu maskapai. Karena mereka membuka rute Perth - Lombok tentunya tak ingin rugi. ‘’Harus ada kepastian bahwa mereka perusahaan tak mau rugi juga. Itu dibantu oleh pemerintah pusat untuk block seat,’’ kata gubernur.

Tahun 2019, pemerintah pusat menargetkan angka kunjungan wisatawan ke NTB sebanyak 4 juta orang. Dengan rincian, 2 juta wisatawan domestik dan 2 juta wisatawan mancenagara.
Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul ini mengajak masyarakat NTB mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik. Tuan rumah yang hangat dan memberikan rasa aman dan nyaman pada tamu-tamu yang akan berkunjung ke Lombok dan Sumbawa.

‘’Kita bangga bahwa tahun  2018 daerah kita adalah  tujuan utama destinasi wisata yang  bersahabat dan ramah untuk  keluarga,’’ katanya.

Doktor Zul mengatakan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sangat serius membantu pariwisata NTB bangkit kembali. Dengan dukungan Kemenpar, penerbangan dengan harga terjangkau akan lebih banyak dari Jakarta  ke Lombok. Demikian juga dari Bali ke Lombok. (Muhammad Nasir/Suara NTB)
Share:

Ketua BPPD NTB Farid Said Dukung Perombakan Pengurus BPPD NTB

KETERANGAN - Ketua BPPD NTB Farid Said (dua dari kanan) bersama pengurus BPPD NTB lainnya, M. Nur Haedin (paling kiri), Sahnan M. Rawiya (dua dari kiri) dan L. Abdul Hadi Faishal (paling kanan) saat memberikan keterangan pers di Makassar, Senin (24/12/2018)

KETUA Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Dr. Farid Said mendukung sepenuhnya kebijakan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, SE., MSc., yang akan mengganti Tim Unsur Penentu Kebijakan di BPPD NTB. Menurutnya, apa yang dilakukan Gubernur NTB dan ini hal biasa, sehingga harus didukung sepenuhnya.



‘’Saya sebagai pengganti Fauzan (H. Fauzan Zakaria, red) kan juga utuk sementara dalam rangka menyelamatkan pencairan anggaran 2018. Selain itu untuk  mendukung beberapa kegiatan NTB dan bukan untuk kepentingan pribadi. Itupun kalau tidak didukung Dispar NTB dan tim Unsur Penentu Kebijakan BPPD NTB  saya tidak ambil jabatan ini yang hanya menyita waktu saya dalam menjalankan tugas pokok saya,’’ terangnya pada Ekbis NTB, Minggu (30/12/2018).

Dalam hal ini, ujarnya, siapapun yang ditunjuk oleh Gubernur NTB  sebagai tim Unsur Penentu Kebijakan, dirinya akan memberikan dukungan.  Dirinya berharap adanya pengurus baru yang telah ditetapkan gubernur tidak lagi terjadi kekisruhan seperti sebelumnya.

‘’Namun yang perlu diperhatikan dalam penunjukan tim Unsur Penentu Kebijakan  berdasarkan Pasal 45 point 1 sampai dengan 4  UU Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Karena Unsur Penentu Kebijakan yang ditunjuk awal tahun 2018 juga sudah keluar dari aturan di atas. Hal ini bertujuan, agar tidak terjadi konflik lagi di tahun 2019,’’ tambahnya.




Tim Unsur Penentu Kebijakan BPPD, pada pasal 45, ayat pertama, ujarnya, terdiri dari 9 orang. Wakil asosiasi kepariwisataan ada 4 orang, wakil asosiasi profesi 2 orang, wakil asosiasi  penerbangan 1     orang dan pakar/akademisi 2  orang. Pada ayat 2, keanggotaan Unsur Penentu Kebijakan ditetapkan dengan keputusan gubernur/bupati/walikota untuk masa  tugas paling lama 4  tahun.  Pada ayat 3, Unsur Penentu Kebijakan dipimpin oleh seorang ketua dan seorang  wakil ketua yang dibantu oleh seorang sekretaris  yang dipilih dari dan oleh anggota.

Sementara pada ayat 4, tambahnya, ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja,  persyaratan, serta tata cara pengangkatan dan  pemberhentian Unsur Penentu Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan  ayat (3) diatur dengan Peraturan Gubernur/Bupati/ Walikota.



Terkait ditunjuknya dirinya sebagai Ketua BPPD NTB, Farid mengaku, jika langkah yang diambil Kepala Dinas Pariwisata dan Unsur Penentu Kebijakan BPPD NTB  lainnya dalam rangka pencairan anggaran BPPD NTB 2018 sebesar Rp2 miliar untuk mendukung anggaran ulang tahun NTB tanggal 17 Desember 2018 dan peluncuran Calendar Of Event NTB 2019 di Jakarta. Tidak hanya itu, ujarnya, untuk pelaksanaan road show Sales Mission BPPD NTB ke Makassar Sulawesi Selatan dan Malang Jawa Timur, serta membayar utang-utang BPPD NTB yang belum terbayar  sebelumnya.

‘’Setelah seluruhnya program berjalan, maka kepemimpinan saya serahkan kepada Unsur Penentu Kebijakan BPPD NTB. Jadi peran saya sebagai  juru selamat sementara. Setelah itu saya bisa fokus  dengan tugas pokok saya di Poltekpar Lombok dan Tim Pemulihan Pariwisata NTB Bangkit,’’ terangnya. (Marham)

Share:

Friday, 28 December 2018

Sales Mission BPPD NTB di Malang, Upaya Merintis Penerbangan Lombok-Malang


 
Wakil Ketua BPPD NTB Sahnan M. Rawiya didampingi pengurus BPPD NTB dan pelaku pariwisata Jawa Timur membunyikan angklung sebagai tanda pembukaan Sales Mission di Ollino Hotel Malang, Rabu (26/12/2018)
Setelah sukses menggelar Sales Mission Lombok NTB di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (24/12/2018) lalu, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB menggelar sales mission di Malang Jawa Timur. Kegiatan yang digelar di Ollino Garden Hotel Kota Malang, Rabu (26/12/2018) mendapat sambutan positif dari buyers  yang ada di Malang.

Kegiatan yang dibuka dengan permainan angklung oleh Wakil Ketua BPPD NTB Sahnan M. Rawiya juga dihadiri anggota lainnya, L. Abdul Hadi Faishal, M. Nur Haedin dan Alfian Yusni. Selain itu hadir juga Ketua BPPD Jawa Timur Dwi Cahyono. Termasuk 20 sellers dari beberapa pelaku pariwisata di NTB.

Meski libur Natal ini merupakan masa ''panen'' bagi pelaku pariwisata yang ada di Provinsi Jawa Timur tidak menyurutkan langkah 50 buyers untuk bertransaksi dengan sellers dari NTB. Bahkan saat transaksi di acara table top yang digelar, banyak yang merasa belum puas dengan batasan waktu yang diberikan. Namun, usai table top mereka kembali bertemu untuk membicarakan transaksi yang belum diselesaikan. 
foto bersama sellers and buyers di acara Sales Mission BPPD NTB di Malang Jawa Timur, Rabu (26/12/2018)
 Bahkan, Ketua BPPD Jawa Timur Dwi Cahyono saat memberikan sambutan memuji jika pariwisata NTB cepat bergerak dalam membangkitkan pariwisata yang terpuruk akibat gempa. Menurutnya apa yang dilakukan NTB ini menjadi barometer bagi daerah di Indonesia yang cepat bangkit pascagempa. Ini jadi motivasi atau pemberi semangat bagi pelaku pariwisata di Jawa Timur untuk tidak menyerah dalam mengelola pariwisata. ''Kalau dua tahun bangkit, sungguh sangat luar biasa,'' pujinya. 

Selain itu, pihaknya siap bekerjasama dengan pelaku pariwisata NTB mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki kedua daerah. Pihaknya juga siap sama-sama mengembangkan wisata halal, meski di Jawa Timur, wisata ini masih dianggap asing. ''Di Malang masih belum begitu dimengerti. Dan kami siap membicarakan dengan pemerintah daerah,'' ujarnya. 


Sementara anggota BPPD NTB Lalu Abdul Hadi Faishal menegaskan, jika satu hal yang paling penting dalam kerjasama pariwisata NTB - Malang adalah adanya penerbangan langsung dari dua daerah. Adanya penerbangan langsung dari Bandara Abdurrahman Saleh Malang dan Lombok International Airport setidaknya mampu mendukung program pengembangan pariwisata kedua daerah. Apalagi hampir 80 persen pelajar dan mahasiswa asal NTB selama ini datang ke Malang lewat Bandara Juanda Sidoarjo. Namun, jika ada penerbangan langsung kedua daerah, selain bisa mempercepat akses, pariwisata juga bisa jalan. ''Nanti kami akan mendekati salah satu maskapai untuk membicarakan hal ini,'' ujarnya. 

 Transaksi antara sellers dan buyers dalam Sales Mission BPPD NTB di Malang Jawa Timur, Rabu (26/12/2018).
Hal senada disampaikan anggota BPPD NTB lainnya M. Nur Haedin, jika akses penerbangan Malang-Lombok adalah satu hal yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata kedua daerah. Meski selama ini, ujarnya, penerbangan Lombok-Surabaya cukup bagus, penerbangan Malang-Lombok tidak kalah potensialnya. Untuk itu, ujarnya, pihaknya segera mendekati Lion Air Group agar bersedia membuka rute baru Malang-Lombok. 

Selain itu, ujarnya, pihaknya tetap berkoordinasi dengan pelaku pariwisata yang ada di Jawa Timur. Termasuk mengikuti sejumlah kegiatan yang digelar di Jawa Timur. Hal ini, katanya, merupakan satu cara menjaga dan merawat hubungan antara kedua daerah. 

Di sisi lain Wakil Ketua BPPD NTB Sahnan M. Rawiya, menjelaskan, jika sales mission yang dilakukan di akhir tahun, karena NTB masih dalam proses recovery. Untuk itu pihaknya mengharapkan dengan sales mission yang digelar mampu membangkitkan kembali pariwisata NTB. Tidak hanya itu, kegiatan yang digelar ini merupakan upaya tetap menjaga hubungan antara pelaku pariwisata Jawa Timur dan NTB. (Marham)
Share:

Sales Mission BPPD NTB ke Makassar, Membangkitkan Kembali Pariwisata NTB Pascagempa

Foto bersama peserta Sales Mission BPPD NTB di Makassar Sulawesi Selatan, Senin (24/12/2018)
Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB sukses menggelar Sales Mission Lombok NTB Tourism Board di Aston Inn Hotel Makassar Sulawesi Selatan, Senin (24/12/2018). Kegiatan yang dihadiri 20 sellers dari NTB dan 50 buyers dari Sulawesi Selatan ini mendapat perhatian dari pelaku pariwisata yang ada di Makassar. 



Selain itu hadir juga Ketua BPPD NTB Dr. Farid Said, Wakil Ketua BPPD NTB Sahnan M. Rawiya, anggota BPPD lainnya, Lalu Abdul Hadi Faishal dan M. Nur Haedin serta pelaku pariwisata asal NTB. Dari Sulawesi Selatan hadir Kepala Bidang Pemasaran dan Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Teken, Ketua ASITA Didi Manaba, Wakil Ketua IGHMA, Ketua PHRI dan Ketua GIPI serta pelaku pariwisata lainnya.

Meski dalam suasana cuti bersama Natal dan ada agenda Sales Mission dari pelaku pariwisata di Makassar tidak menyurutkan langkah mereka menghadiri kegiatan dari NTB ini. Pelaku pariwisata di Makassar dan jajaran pemerintah daerah di Sulawesi Selatan siap mendukung upaya Pemprov NTB dan pelaku pariwisata membangkitkan kembali dunia pariwisata yang sempat terpuruk akibat gempa. 

Ketua BPPD NTB Dr. Farid Said saat memberikan sambutan pada Sales Mission menegaskan, jika pasar Makassar, khususnya dan Provinsi Sulawesi Selatan umumnya merupakan pasar potensial, sehingga perlu terus dipertahankan. Selain itu, ujarnya, perkembangan pariwisata Sulawesi Selatan cukup bagus, sehingga NTB perlu menjalin kerjasama dalam membangun pariwisata secara bersama-sama. 
 


Kepala Bidang Pemasaran dan Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan Teken didampingi Ketua BPPD NTB Farid Said, Wakil Ketua BPPD NTB Sahnan M. Rawiya, anggota BPPD NTB L. Abdul Hadi Faishal dan M. Nur Haedin memukul gong sebagai tanda pembukaan Sales Mission BPPD NTB di Aston Inn Hotel Makassar, Senin (24/12/2018). 

Diakuinya, NTB memiliki potensi besar di bidang pariwisata. Banyak objek pariwisata yang menjadi favorit wisatawan, seperti tiga Gili (Trawangan, Meno dan Air), Senggigi, Sekotong dan beberapa objek wisata menarik di Pulau Lombok. Belum lagi, sejumlah objek wisata di Pulau Sumbawa yang tidak kalah menarik dengan yang ada di Pulau Lombok. 


Meski demikian, ujarnya, gempa yang terjadi beberapa waktu lalu berdampak pada kunjungan wisatawan ke NTB. Beberapa fasilitas pariwisata rusak dan sekarang ini sedang dilakukan recovery. Namun, saat gempa terjadi beberapa objek wisata di Pulau Lombok, khususnya di Lombok bagian selatan tidak terdampak. Beda dengan kawasan Lombok bagian utara dan barat yang terkena dampak besar dari gempa yang terjadi.

Di sisi lain, ujarnya, pemerintah pusat melalui Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sedang mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus) Mandalika di Lombok Tengah. Menurutnya, sekarang ini sedang dibangun beberapa hotel bertaraf internasional. Salah satunya, hotel yang dimiliki keluarga dari Kerajaan Arab Saudi dan diharapkan bisa segera beroperasi. "Selain itu, di KEK Mandalika akan dibangun Sirkuit MotoGP dan dalam proses," ujar dosen di Politeknik Negeri Lombok ini.
 
Transaksi sellers dan buyers di acara Sales Mission BPPD NTB di Makassar Sulawesi Selatan, Senin (24/12/2018)


Untuk itu, pihaknya mengharapkan melalui Sales Mission ini, pelaku pariwisata di kedua daerah mampu menjalin hubungan yang lebih baik dalam membangun pariwisata ke dua daerah. 

Sementara Kepala Bidang Pemasaran dan Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan Teten, menegaskan komitmen pihaknya yang siap menjalin kerjasama dalam mengembangkan pariwisata dengan pelaku pariwisata NTB. Sulawesi Selatan, ujarnya, memiliki banyak objek wisata yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung, seperti Pantai Losari, Fort Rotterdam, Tana Toraja dan beberapa tempat menarik lainnya. 

Begitu juga, ujarnya, Makassar sebagai ibukota dengan aktivitas tinggi dan dilanda macet tiap hari memaksa warganya untuk mencari tempat liburan, baik di dalam daerah dan luar daerah. Untuk itu,  berwisata ke luar daerah, khususnya ke NTB bisa menjadi alternatif bagi warga Makassar untuk berlibur. (Marham)

Share:

Thursday, 20 December 2018

Gubernur NTB Doktor Zul Minta Petugas Museum Harus Jadi Pujangga Besar

Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah didampingi Ketua TP PKK NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati berada di Museum NTB
Museum adalah tempat menziarahi masa lalu masa sekarang dan refleksi masa depan, pesan besar museum terkait keindahan besar NTB ini belum sampai ke masyarakat apalagi ke pemerintah pusat, minimal bisa sampai ke para kepala sekolah, sehingga dapat mengajak anak-anak didiknya mengunjungi museum.

Demikian ujar Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. H. Zulkieflimansyah saat mengunjungi Museum Negeri Nusa Tenggara yang beralamat di Jalan Panji Tilar Negara No.6 Kota Mataram, Kamis (20/12/2018).

Dalam tour singkat keliling museum yang didampingi oleh Ketua TP. PKK Provinsi NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati ini, Dr. Zul menyampaikan bahwa petugas museum harus bisa menjadi pujangga besar,  sekaligus entertain yang baik, bisa menceritakan dan membuat masyarakat mengetahui sejarah lebih jelas dibandingkan dengan membaca buku.

Saat itu, Dr. Zul juga berdialog langsung dengan pimpinan dan  pengurus museum mengenai kendala dalam peningkatan kunjungan museum pasca bencana gempa yang mengalami penurunan, dari target  kunjungan museum tahun 2018 dengan 72 juta kunjungan  sampai November  kemarin baru mencapai 32 juta kunjungan.

Museum ke-11 yang dibangun pada masa orde baru ini merupakan salah satu museum yang mewakili 3 etnis sekaligus, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Kedepannya? Dr. Zul berharap museum tidak hanya menampilkan 3 etnis asli NTB, tapi dapat menjadi Replika Indonesia di mata wisatawan dan menjadi salah satu destinasi wisata.

Kepala Museum Negeri Zubair Muslim menyampaikan, pasca gempa koleksi yang ditampilkan museum hanya 10 persen, akibat kerusakan yang berat gedung auditorium sehingga tidak memenuhi syarat. "Tempat koleksi roboh karena gempa, sementara menitip koleksi di ruang kontemporer " ujar Zubair.
Gubernur NTB Doktor Zul dan Ketua TP PKK Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah lihat koleksi Museum NTB

Staf museum Hubertus yang diberi kesempatan berdialog langsung dengan orang nomor satu NTB itu, menyampaikan harapannya agar  Museum Negeri NTB yang kecil tapi indah ini dapat dilengkapi fasilitas penunjang lain, salah satunya toilet yang bertaraf internasional, mengingat banyaknya kunjungan petugas museum dari daerah lain yang melakukan studi banding ke Museum Negeri NTB ini.

Koleksi museum yang beragam dapat menjadi sarana edukasi yang baik bagi masyarakat NTB, di antaranya koleksi Manuskrip Angling Darma hingga  silsilah kesultanan Bima, ada juga Takepan Babad Suwung yang ditulis dengan aksara Sasak dengan bahasa Jawa Madya. Ingin tahu lebih banyak lagi, Ayo Ke Museum!! (Humas NTB)
Share:

Monday, 17 December 2018

Alfamart Klaim Lakukan Pembinaan pada Warung Sekitar


Corporate Communication Alfamart Ame Dwi Pramesti 

SALAH satu ritel modern berjaringan yang banyak mendirikan gerai di desa-desa adalah Alfamart. Pertambahan gerai milik perusahaan ini cukup banyak terlihat beberapa tahun terakhir. Jajaran manajemen Alfamart mengklaim, mereka ingin tetap tumbuh dan berkembang bersama pedagang tradisional yang mereka bina.

Corporate Communication Alfamart Ame Dwi Pramesti kepada Ekbis NTB mengatakan, mereka memiliki program Outlet Binaan Alfamart (OBA) serta program Pelatihan Manajemen Ritel Modern yang menyasar para pedagang tradisional binaan Alfamart di wilayah sekitar.

Menurutnya, setiap toko memiliki warung binaan yang dijadikan member SSP.  Warung binaan ini jika berbelanja menggunakan kartu tersebut mereka akan mendapat diskon khusus. “ Pesan, tinggal antar tanpa harus datang ke toko,” kata Ame. Sampai saat ini jumlah OBA yang ada di NTB sebanyak 2.500 warung yang tersebar di sejumlah kabupaten kota.


Pedagang binaan tersebut juga mendapatkan konsultasi gratis terkait display barang, rak di toko, pemilihan item barang sesuai tren belanja masyarakat, hingga manajemen cash flow. “Tak hanya itu, secara berkala mereka kami undang di pelatihan manajemen ritel modern untuk update pengetahuan tentang manajemen ritel modern,” tambahnya lagi.

Ia mengatakan, sejumlah toko Alfamart di wilayah kabupaten juga sudah melakukan kerja sama dengan UKM lokal untuk menjual produk UKM. Produk yang masuk ke toko Alfamart bersifat gratis dengan catatan bahwa produk yang dipasok tersebut merupakan rekomendasi dari Disperindag setempat.

Namun persentase produk yang masuk ke rak gerai Alfamart tidak disebutkan dengan alasan masing-masing kabupaten memiliki jumlah produk yang berbeda-beda. Kebijakan ini juga memiliki kendala berupa suplai barang dari UMKM ke Alfamart yang tidak kontinyu.

Apakah ke depannya, Alfamart akan menambah jumlah gerainya di daerah-daerah yang belum tersentuh ritel modern? Menurut Ame, kebijakan mendirikan ritel modern sangat tergantung dari regulasi pemerintah kabupaten/kota. Misalnya di wilayah Kabupaten Lombok Utara dan Dompu belum ada gerai Alfamart, karena di dua kabupaten tersebut belum memiliki regulasi yang membolehkan pendirian ritel modern berjaringan.  “ Di sana belum ada regulasinya. Kalau sudah ada kepastian payung hukum, kita akan jalan,” katanya.(Faris/Ekbis NTB)
Share:

Minimarket dan Tantangan Ekonomi Desa di Pulau Lombok

Kondisi warung yang berada di depan ritel modern di Batulayar Lombok Barat. Banyak warung di sekitar ritel modern merasakan dampak dari keberadaan ritel modern. 
BADAN Pusat Statistik (BPS) mengungkap persoalan ekonomi kerakyatan di desa di dalam keterancaman. Menjamurnya minimarket memicu tergerusnya wirausaha kecil. Minimarket, atau lumrah disebut ritel modern dalam beberapa tahun terakhir masuk ke NTB. mula-mula, keberadaannya hanya dijumpai di kota-kota. Pelan tapi pasti, jumlahnya kian banyak. Dan menggerogoti ceruk pasar hingga ke desa-desa.



TENTU ia tak masuk begitu saja. ada campur tangan pemerintah daerah hingga minimarket dengan jaringan ritel yang menggurita ini tiba-tiba saja jumlahnya terus membengkak. Dan seolah tak lagi kenal tempat. Asal ada peluang, ritel-ritel modern terus merangsek.

Sangat tak bisa dibayangkan makin terjepitnya pedagang-pedagang kecil. Ritel modern ini secara terbuka dipertemukan pada medan tarung head to head dengan pedagang-pedagang kecil. Bagaimana mungkin? Jaringan bisnis dengan pemodal raksasa ini dapat ditaklukkan oleh pedagang-pedagang tradisional yang modalnya hanya kacangan?

Malam Minggu biasanya jalur Mataram menuju utara ke Senggigi akan terasa berbeda. Jejeran pedagang-pedagang kecil sederhana di jalur kiri kanan menuju objek wisata legendaris di Lombok Barat ini cukup banyak.



Ada perbedaaan yang mencolok, antara ritel modern dan kios-kios kecil yang ada di sepanjang jalan. Kios-kios milik pedagang tradisional hanya disiram cahaya lampu remang-remang. Di bagian lain, ritel modern nampak gemerlap. Terang benderang.  Secara alam bawah sadar, rasa ingin berbelanja kita tentu lebih tertuju kepada ritel-ritel modern yang dikemas mencuri perhatian itu. Rasanya lebih mantap berbelanja di sana.

Di sebuah warung kecil di Dusun Duduk, Batulayar Lombok Barat, terdapat sebuah warung yang beroperasi dekat ritel modern yang terlihat mentereng.  Dalam jangka waktu beberapa lama, tak satupun pembeli datang menghampiri warung ini. Padahal di warung sederhana ini, aneka makanan cemilan disediakan atau rokok. Di tambah di depannya bahan bakar kendaraan eceran.

Di seberang jalan, ritel modern nampak tak sepi kunjungan. Dari yang jalan kaki, menggunakan kendaraan roda dua, hingga kendaraan-kendaraan pribadi. Mereka terhenti, lalu masuk dan keluar menenteng bawaan.



Nurhayati – sang pemilik warung kesal ditanya sebegitu bertolakbelakang keadaannya. Sejak hadirnya ritel modern itu, praktis jualannya tak lagi seperti dulu. Hasil berjualan seadanya. Yang laku hanyalah rokok bijian, di tambah bensin eceran, itupun kalau sehari terjual tak lebih dari lima botol. Bahkan terkadang laku hanya sebotol bensin.

“Sebelum ini ada, malam Minggu kita bisa jualan sampai di atas jam 12. Ada saja pembeli masuk. Sekarang jangan harap. Betul-betul sepi,” ujarnya kecewa.
Ritel modern di wilayah Lombok Barat
Telah enam tahun ia jualan di pinggir jalan ini. Hadirnya ritel modern di seberang jalan praktis telah mengubah keadaannya. Ia kehilangan pasar. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Nurhayati berusaha serabutan. Dua anaknya harus dihidupi, dan hidup terus berlanjut.



Minimarket itu menurutnya tiba-tiba saja beroperasi. Tanpa pemeritahuan, kendati telah dipertanyakan oleh pedagang-pedagang kecil di sekitarnya. Tak ada daya, meski para pedagang pinggiran jalan ini menolak keras hadirnya minimarket itu. “Mau bagaimana lagi. Kita terima saja, karena sudah telanjur diizinkan buka,” ujarnya.

Ia dan beberapa pedagang kecil di sekitarnya juga nyaris tak mendapat manfaat. Untuk membeli barang isian kiosnyapun, Nurhayati tak membeli dengan pola kemitraan. Bahkan cenderung harga jual barangnya lebih mahal ketimbang ditempat ia biasa mendapatkannya.
Senggigi masihlah dihitung desa. Pusat wisata pantai ini harusnya menjadi tempat empuk pedagang-pedagang kecil mencari nafkah. Sayangnya, tidak demikian. Minimarket di bawah satu brand menjamur. Menjaring uang-uang belanja recehan wisatawan di sana.



Berbalik haluan menuju pulang. Melintasi jalan-jalan desa di Gunung Sari. Desa-desa penyangga Senggigi ini rupanya dikawal ketat pemodalnya. Minimarket juga menjamur. Antara yang satu dengan yang lain jaraknya sangat dekat.  Beberapa pemilik kios turut resah. Mereka kalah saing. Tapi ada dayanya, tangan pemerintah daerah membuat mereka tak kuasa menolak persaingan berat itu.  

Sementara di Jalan Ade Irma Suryani Mataram. Banyak warung atau usaha kecil harus bersaing untuk mendapatkan pembeli, baik sesama pemilik warung atau dengan usaha berskala besar. Sebagian pedagang memilih menjual produk tradisional dan tidak dijual di ritel modern, seperti sayur mayur, lauk pauk yang sudah jadi, es kelapa, sate, nasi bungkus dan lainnya.



Sejumlah pedagang menyadari, kalau mereka berjualan seperti yang dijual di tempat yang bagus, barang mereka tidak akan laku. Apalagi, harga antara pedagang kecil dan di ritel modern ada perbedaan cukup  signifikan. Namun, banyak di antara pedagang kecil yang tetap berjualan beberapa produk yang dibutuhkan, seperti rokok, mi instan, manisan dan makanan ringan lainnya.

Di lain pihak, Kepala BPS Provinsi NTB, hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang diselenggarakan telah mengungkap  tantangan besar ekonomi kerakyatan di desa.Hasil Podes menunjukkan, desa dengan keberadaan minimarket pada keadaan tahun 2014 – 2018 mengalami peningkatan sebesar 49 persen. Atau dari sebanyak 197 desa, menjadi 293 desa yang menjadi jaringan pasarnya.

“Saya sudah sampaikan juga ke Bu Wagub, karena minimarket ini sudah ada. Tinggal, bagaimana caranya agar minimarket ini bisa menjual produk-produk lokal,” ujarnya.

Pendataan Podes dilaksanakan tiga kali dalam 10 tahun. Tahun 2018 ini, Podes dilaksanakan pada Mei secara sensus melibatkan kepala desa, lurah atau setingkat di bawahnya. Suntono, menggambarkan secara umum, berdasarkan hasil Podes 2018di Provinsi NTB tercatat 1.143 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa yang terdiri dari 995 desa, 145 kelurahan dan 3 UPT.  Podes juga mencatat sebanyak 117 kecamatan dan 10 kabupaten/kota. (Bulkaini/Ekbis NTB)

Share:

Didampingi Puluhan Pengusaha, Kepala Dinas Pariwisata Selangor Tandatangani Kerjasama dengan NTB

Wagub NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah menandatangani MoU dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Peradaban Malaysia dan Warisan, Negara Bagian Selangor, Malaysia, Datuk Abdul Rashid Asari di Hotel Novotel, Kuta Lombok Tengah  Senin (17/12/2018).
Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Investasi Komoditas Potensial dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Peradaban Malaysia dan Warisan, Negara Bagian Selangor, Malaysia, Datuk Abdul Rashid Asari di Hotel Novotel, Kuta Lombok Tengah  Senin (17/12/2018) ini.

MoU ini adalah tindak lanjut atau kunjungan balasan setelah kunjungan kerja sejumlah kepala dinas/ OPD Pemprov NTB  ke Selangor awal November 2018, sebagai upaya untuk membangun kerja sama Sister Province (Provinsi Kembar) antara NTB dengan Negeri Selangor ataupun Sister City antara Mataram dengan Shah Alam (ibukota negara bagian Selangor).

BACA JUGA Promosi Pariwisata, BPPD NTB Sasar Malaysia

Dalam kunjungan balasan ke NTB kali ini, Datuk Abdul Rashid ditemani puluhan pengusaha Selangor, yang tertarik mengembangkan bisnisnya ke NTB.

Wagub NTB Sitti Rohmi mengundang para tamu untuk tidak ragu berinvestasi di Lombok dan Sumbawa, terutama di bidang Pariwisata dan Agroindustri di bidang pabrik olahan. "Untuk diketahui tuan-tuan dan puan-puan semua, NTB itu terdiri dari dua pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa. Keduanya memiliki potensi pariwisata dan industri yang sama besarnya. Mulai dari wisata pantai/ laut, gunung hingga desa wisata dengan beragam seni budaya. Anda-anda semua bisa mengembangkan bisnis dan investasi perhotelan ataupun restoran dan lainnya, dengan kemudahan-kemudahan yang kita fasilitasi. Apalagi NTB juga salah satu daerah perintis Halal Tourism, yang Insya Allah cocok dengan para pelancong dari Malaysia. Dengan kesamaan mayoritas penduduk yang beragama Islam, kita bisa bekerja sama mengembangkan segmen pariwisata itu bersama-sama," ungkap Wagub dalam sambutannya.
Wagub NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah tukar cenderamata dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Peradaban Malaysia dan Warisan, Negara Bagian Selangor, Malaysia, Datuk Abdul Rashid Asari di Hotel Novotel, Kuta Lombok Tengah  Senin (17/12/2018).
Menurut Wagub, pertemuan digelar di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika untuk menunjukkan keseriusan Pemprov NTB dalam mempersiapkan infrastruktur dan fasilitas pendukung bagi para investor. Sementara untuk agroindustri dan pengolahan, Wagub menyatakan potensi-potensi pertanian, peternakan dan perikanan di Lombok maupun Sumbawa sangat terbuka bagi para pengusaha Selangor. Misalnya kerja sama ekspor seperti beras dan jagung misalnya, dan jika perlu investasi pembangunan pabrik-pabrik atau mesin olahan hasil komoditi pertanian unggulan NTB.

Sementara dalam kerja sama Sister Province, menurut Umi Rohmi, sapaan akrab Wagub Sitti Rohmi, NTB bisa belajar banyak dari Selangor. Salah satunya adalah bahwa Shah Alam sebagai ibukota provinsi Selangor mampu mencapai angka Pendapatan Nasional Produk Domestik Bruto (GDP) tertinggi di Malaysia pada 2016 dan 2017, adalah sesuatu yang bisa dipelajari.

Bagi Datuk Abdul Rashid Asari, dirinya dan para pengusaha merasa cukup terkesan dengan kesiapan KEK Mandalika saat diajak berkeliling sebelum penandatanganan MoU digelar. "Keindahan pantai-pantai yang ada di Kuta ini sangat "seronok", sedap dan indah dipandang. Mirip-miriplah dengan pantai Nusa Jaya di Negeri Johor Malaysia. Selepas pelawatan ini, saya pasti akan meyakinkan para usahawan (pengusaha) Negeri Selangor untuk mau menanamkan modal di NTB ini. Apalagi NTB dan Selangor juga punya kesamaan memiliki beragam seni dan budaya, serta tentunya wisata pantai-pantai yang indah. Begitu juga di bidang industri pertanian, perikanan, pengolahan maupun lainnya yang sesuai antara NTB dengan Malaysia," papar Datuk Abdul Rashid.

BACA JUGA : Wisatawan Asal Malaysia Timur Puji Lombok

Abdul Rashid juga menyatakan industri permesinan serta pabrik pengolahan hasil komoditas pertanian maupun perikanan juga menjadi sektor yang siap dijajaki. Sementara dalam kerja sama di bidang non-ekonomi, NTB dan Selangor juga akan bekerja sama di sektor pendidikan. Terutama beasiswa bagi mahasiswa-mahasiswi NTB ke sejumlah universitas ternama di Malaysia, salah satunya di Negara Bagian Selangor. Rencananya, Pemprov NTB akan mengirimkan 500 hingga 1000 mahasiswa untuk melanjutkan studi sarjana maupun pascasarjana di Malaysia.

Sedangkan kerja sama jangka pendek dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa NTB, adalah penggunaan teknologi rumah tahan gempa RISBA (Rumah Instan Baja) yang juga dikembangkan di Malaysia. Tentunya yang memenuhi standarisasi dan sertifikasi yang disyaratkan oleh Kementerian PUPR RI. Langkah awal kerja sama di bidang pengembangan RISBA adalah kunjungan sebagian pengusaha RISBA asal Selangor ke STIP (Science Techno & Industrial Park) Banyumulek Mataram, sebagai langkah penjajakan kesesuaian spesifikasi dan standarisasi produk. (Humas NTB)
Share:

VISITOR

YANG SAYANG ANDA LEWATKAN

Blog Archive