![]() |
Ketua BPPD Lombok Tengah Ida Wahyuni (Dokumentasi Pribadi/Twitter) |
PULUHAN desa wisata yang sedang dikembangkan di Kabupaten
Lombok Tengah (Loteng) menjadi penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Mandalika. Saat ini sekitar 40 desa yang tetap eksis mengembangkan diri menjadi
desa wisata di Loteng. Namun tahun depan, sekitar 37 desa wisata lagi yang akan
didorong untuk menjadi desa yang siap menerima kunjungan wisatawan domestik
maupun mencanegara.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten
Loteng Ida Wahyuni kepada Ekbis NTB, Kamis (7/11/2019), mengatakan, pascagempa yang melanda NTB tahun 2018 lalu,
kunjungan wisatawan ke desa wisata sudah berangsur-angsur normal. ‘’Namun
demikian, ada sebagian yang masih dalam tahap perbaikan infrastruktur serta
sarana dan prasarana pascagempa,” katanya.
Yang jelas kata Ida, BPPD, pelaku desa wisata dan unsur
terkait lainnya sedang berupaya
melakukan promosi untuk menarik kunjungan ke desa wisata yang jumlahnya akan
terus bertambah. Masyarakat semakin bersemangat membangun dan mengelola desa
wisata setelah melihat perkembangan KEK Mandalika dan rencana pelaksanaan
MotoGP tahun 2021 mendatang.
“ Kami optimis sekali, karena bukan hanya di
Mandalika saja yang menjadi pusat kunjungan, namun daerah penyangga seperti
desa wisata ini harus kita siapkan. Kita tingkatkan untuk capacity building-nya, bagaimana mengelola agar length of stay wisatawan juga bisa
bertambah seperti itu serta bagimana pengembangan SDM masyarakat,” katanya.
Menurut perintis Desa Wisata Setanggor ini, mengeloa desa
wisata relatif tidak memiliki tantangan yang serius, karena yang dibutuhkan
adalah kesiapan masyarakat, ada potensi desa yang bisa dijual serta pemerintah
desa mendukung terbentuknya desa wisata tersebut.
Saat ini desa wisata di Loteng sedang berkembang positif dan
angka kunjungan wisatawannya cukup tinggi. Sebagai gambaran di desa wisata Setanggor, hampir setiap hari
sekarang tingkat hunian homestay-nya
penuh.” Homestay VIP yang pakai AC
itu 11 kamar, selebihnya pakai kipas. Jadi yang jadi homestay itu rumah masyarakat itu sendiri,” tambahnya.
Menurutnya, modal terbesar dalam mengelola desa wisata
adalah kesadaran dari masyarakat akan pentingnya hospitality dan pelayanan yang baik. “ Dan masyarakat saya lihat
sudah mulai berbenah agar tamu yang datang bisa nyaman. Terlebih jualan desa
wisata adalah aktivitas harian masyarakat atau kearifan lokal yang ada di dalam
masyarakat itu sendiri,”tambahnya.
Tinggal pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan saat ini
yaitu promosi melalui dunia maya, karena akses digital sangat penting untuk
meningkatkan angka kunjungan wisatawan. “ Kami semakin bersemangat dan optimis
karena Ditjen PDT Kementerian Desa memiliki program bantuan 300 juta untuk
digital promotion per desa wisata di tahun 2020 nanti,” katanya.(Zainuddin Syafari/Ekbis NTB)
0 komentar:
Post a Comment