![]() |
Fauziah, salah satu pengusaha terasi di Dusun Jor Desa Jor Kecamatan Jerowaru Lombok Timur sedang menjemur terasi yang sudah dicetak seperti batu bata sebelum dijual pada konsumen |
DALAM membuat sambal, bahan yang paling penting selain cabai adalah terasi, karena dapat meningkatkan
cita rasa sambal yang dibuat. Sejak dulu, Dusun Jor, Desa Jor Kecamatan Jerowaru Lombok Timur
terkenal sebagai
salah satu daerah pembuat terasi yang banyak dipasarkan di sekitar Lombok.
Fauziah, salah satu pengusaha terasi di dusun ini mengaku sudah belasan tahun menekuni
usaha pembuatan terasi ini. Apalagi membuat terasi sudah dilakukan secara turun
temurun. Terasi yang dibuat tetap memperhatikan aspek kesehatan, tanpa
melakukan pencampuran atau menggunakan zat berbahaya pada produk terasi yang
dibuatnya.
Baginya dan pembuat terasi lain yang
ada di desanya lebih mengutamakan kepercayaan konsumen daripada mencari
keuntungan, tapi membahayakan konsumen yang mengkonsumsinya.
“Bahan pembuatan terasi di sini hanya udang rebon, garam
sama air saja untuk membuat adonannya. Proses pembuatannya juga masih
tradisional yaitu dengan ditumbuk tanpa menggunakan peralatan modern,”
terangnya pada Ekbis NTB belum lama ini.
Dalam mendapatkan bahan baku, Fauziah
membeli di
sekitar desanya, karena berdekatan dengan laut ataupun dari Tanjung Luar. “Harga udang per kilogram itu
Rp 25 ribu, jadinya 1 timbang harganya Rp 2,5 juta,” kata Fauziah.
Dalam sehari, ia bisa memproduksi sampai 500 buah
terasi berbagai macam ukuran tergantung permintaan pembeli. “Saya biasanya
membuat 3 ukuran, yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar, tetapi yang paling
banyak ukuran kecil karena itu yang paling lancar pasarannya,” terangnya.
Menurutnya, 1 kg bahan baku rebon bisa
menghasilkan 1,5 kg terasi yang kemudian dicetak sesuai ukurannya. “Membuatnya seperti membuat
batu bata itu, setelah dicetak baru kemudian dijemur sampai kering,” jelas Fauziah.
Proses pembalikan saat penjemuran harus sering
dilakukan agar keringnya merata sampai dalam. “Penjemuran membutuhkan waktu
sampai 1-2 hari jika kondisi cuaca sedang bagus, kalau musim hujan seperti
sekarang bisa membutuhkan waktu yang cukup lama,” ceritanya.
Ia menambahkan di pasaran banyak pembeli yang salah
persepsi jika terasi yang asli adalah terasi yang memiliki warna merah, padahal
bukan. “Terasi
asli itu yang warnanya coklat karena memang seperti itu warna udangnya setelah
ditumbuk, kalau yang warnanya merah itu diberi pewarna makanan,” terang
Fauziah.
Meski demikian, pembeli lebih menyukai terasi yang
diberi pewarna karena lebih menarik. Namun, pihaknya tidak mau
menggunakan zat pewarna untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Untuk harga, terasi
ini dibanderol dengan harga yang terjangkau yaitu hanya Rp 10 ribu saja, di mana konsumen akan
mendapatkan 4 buah terasi berukuran kecil atau 3 buah terasi ukuran sedang atau 1 buah
terasi ukuran besar. “Terasi ini bisa bertahan sampai 5-6 bulan,” imbuhnya.
Fauziah mengatakan pasaran terasi buatannya banyak dipasarkan di pasar-pasar tradisional di Lombok. “Tetapi sekarang zamannya sudah canggih, jadi banyak yang ambil di sini untuk dijual lewat online dan dipasarkan ke seluruh Indonesia seperti Jakarta, Kalimantan dan lainnya,” klaimnya. (Uul/Ekbis NTB)
0 komentar:
Post a Comment