Be Your Inspiration

Monday, 1 February 2016

PSMTI Gelar Donor Darah Sambut Imlek

Wagub NTB H. Muh. Amin tinjau pelaksanaan donor darah
jelang Imlek di NTB

Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) NTB pada Minggu (31/1/2016)  menggelar donor darah. Kegiatan itu merupakan rangkaian acara untuk menyambut Imlek tahun ini. Donor darah ini dihadiri setidaknya oleh 1000 orang. Diantaranya masyarakat umum, tokoh adat, TNI, Polri, Persatuan Islam Tionghoa Indosnesia (PITI) dan banyak lainnya.

‘’Sebenarnya kalau donor darah itu kita lakukan dua kali dalam setahun. Pada saat menyambut Imlek dan menyambut bulan puasa.
Share:

Destinasi Air Panas Dompu

Pantai Air panas di Pantai Selatan Dompu

Wilayah Huu, Kabupaten Dompu,  tidak hanya memiliki potensi wisata Lakey yang dikenal dunia karena keindahan ombaknya. Tapi juga memiliki potensi alam lainnya seperti air panas di pantai selatan sebelum perbatasan dengan Parado Kabupaten Bima. Air panas yang menyatu dengan pantai selatan Huu ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin berendam.

Share:

Sunday, 31 January 2016

Wartawan Internasional Hadiri HPN 2016 di NTB


Pemprov NTB dan jajaran Pemkab Lombok Tengah (Loteng) kembali menggelar persiapan puncah Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di ruang rapat utama Kantor Bupati Loteng, Jumat (29/1/2016) .  Rapat dihadiri dari PWI NTB, GM Lombok Internasional Airport (LIA) I Gusti Ngurah Ardita, pihak ITDC, PHRI dan sejumlah pihak terkait lainnya.

Share:

Objek Wisata Religi di Mataram NTB

  
Petunjuk menuju Makam Al Kaff
di Seganteng Kota Mataram NTB
Kota Mataram memang tidak terlalu populer sebagai destinasi wisata di Pulau Lombok. Kota ini hanya kerap dijadikan persinggahan para pelancong yang akan berkunjung ke berbagai destinasi wisata
Share:

Tikar Pandan Lombok yang Terancam Punah

Membuat tikar pandan Lombok di Dusun Tunggu Lawang
Kuripan Lombok Barat
Dusun Tunggu Lawang Desa Kuripan Selatan dikenal sebagai sentra kerajinan tikar daun pandan duri di Lombok Barat (Lobar). Puluhan tahun lalu, hampir semua warga setempat menggeluti kerajinan tersebut. Hasil kerajinan perajin di dusun ini bahkan menyasar hingga ke luar daerah, seperti Bali dan Jawa.

Namun sekarang, kerajinan tikar itu hampir punah karena tidak ada regenerasi.  Apalagi banyak tikar produksi pabrik dari bahan baku plastik dan bahan lain yang dijual dengan harga murah dan tahan lama. Atas dasar itu, pelestarian apa yang menjadi peninggalan nenek moyang harus terus dipertahankan. Inilah yang menjadi tugas pemerintah dalam memberikan pemahaman pada masyarakat.

Share:

Wednesday, 20 January 2016

Presiden Jokowi Pastikan Hadir di HPN 2016 di Lombok

Presiden Jokowi pose bersama panitia HPN 2016
dan Wakil Gubernur NTB
H. Muh. Amin di Istana Negara, Rabu (20/1/2016)
Presiden Joko Widodo memastikan dirinya akan hadir dalam puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tanggal 9 Februari mendatang. Kepastian ini disampaikan Jokowi ketika menerima komponen pers penyelenggara HPN di Istana Negara, Rabu siang (20/1/2016).  "Saya sudah blok waktu sehingga tidak ada kegiatan lain pada waktu itu," ujar Jokowi.

Share:

Gantungan Kunci dan Benang Nilon Khas Lombok Ekspansi ke Bali

  
 Nilon Lombok bermerek Bali
GELANG dan gantungan kunci berbahan baku nilon tidak hanya berjaya di daerah sendiri. Gelang yang dibuat secara sederhana ini juga banyak diminati pengusaha atau wisatawan dari di daerah lain.

Meski bermerk daerah lain, gelang dan gantungan kunci benang nilon ini merupakan hasil karya perajin Lombok. Banyak gelang dan gantungan kunci bahan baku nilon bermerk Bali atau provinsi lain di Jawa didatangkan dari Lombok. Begitu juga artshop atau toko-toko yang khusus menjual suvenir dipesan dari para perajin yang banyak di Pulau Lombok. 

Bagi perajin, tingginya pesanan orderan dari luar daerah merupakan kesempatan emas bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan. Mereka bisa membuat gelang atau gantungan kunci di sela-sela waktu luang. Bahkan, saat ngerumpi bisa dimanfaatkan untuk memenuhi pesanan gelang atau gantungan kunci.

Muhammad Taufan, salah satu perajin di Taman Narmada Lombok Barat, mengaku, sejumlah pengusaha atau pengumpul barang yang khusus berusaha untuk suvenir, baik di Bali dan Lombok memesan produk dalam jumlah besar.

Pesanan dalam jumlah besar ini dikerjakan sejumlah perajin yang ada di Narmada, Mataram atau di Senggigi. Masing-masing perajin diberikan jatah mengerjakan produk sesuai pesanan.

"Misalnya, kayak Fortuna Agung ambil di kita. Terus ada pengusaha dari Bali dan Rinjani (Sembalun, red) juga banyak pesan gelang dan gantungan kunci dari kita," ujarnya di Taman Narmada, Sabtu (9/1/2016).
Jualan suvenir khas Lombok seperti gantungan kunci dari nilon di Taman Narmada Lombok Barat
Meski demikian, lanjut Opan -- panggilan pria asal Presak Narmada ini, pesanan produk dari pengusaha hanya sewaktu-waktu dan tidak setiap saat. Namun, adanya pesanan itu mampu membuat penghasilan bisa bertambah, di samping lakunya produk yang dibuat di saat waktu luang.

Dalam membuat gelang dan gantungan kunci, para perajin tidak selamanya mulus. Mereka dihadapkan dengan bahan baku, khususnya benang nilon yang terbatas. Terkadang saat ada benang di toko, para perajin harus "berebutan" untuk membeli. Jika beruntung, satu perajin bisa mendapatkan benang dengan beraneka warna, khususnya warna yang menjadi favorit pembeli.

Namun, jika apes, perajin hanya mendapatkan beberapa benang nilon dengan warna yang monoton. "Ya, ketimbang tidak ada, terpaksa kita beli benang dengan warna yang sama. Ketimbang tidak ada benang. Nanti, kalau ada bahan, kita bisa berkreasi agar pembeli tertarik membeli," ujarnya.
Taman Narmada Lombok Barat yang banyak dikunjungi wisatawan

Selain benang nilon, para perajin juga dihadapkan dengan keterbatasan bahan baku berupa spons. Meski spons terkesan tidak terlalu penting, karena bisa diganti dengan bahan lain dari karet, bahan dibeli dari toko cukup efisien. Perajin tidak perlu membuang waktu untuk memotong atau membuat ukuran sesuai jenis gelang atau gantungan kunci.

Kalau menggunakan spons perajin hanya cukup menyesuaikan panjang dengan gantungan dan gelang nilon yang dibuat. "Ini memudahkan kita," ujarnya.

Sementara bahan lain yang dibutuhkan adalah bekas map plastik yang sudah dipotong. Bahan ini, cukup banyak didapat di pasaran. Bahkan, map bekas juga banyak digunakan. "Bahan seperti map plastik gampang dicari. Begitu juga lem dan ring cukup banyak tersedia," klaimnya.

Mengenai adanya perhatian pemerintah daerah terhadap produk ini, Opan mengaku tidak terlalu banyak. Perajin lebih banyak mandiri dalam upaya memasarkan produk yang dibuat. Apalagi, dalam menjual gelang atau gantungan kunci ini tergantung minat pembeli, khususnya generasi muda. Untuk itu, dirinya berusaha membuat gantungan kunci dan gelang lebih variatif dan menarik, sehingga barang yang dijual banyak laku dibeli. (Marham)
Share:

Tampil Beda dengan Gelang dan Gantungan Kunci Benang Nilon Lombok

Buat gelang nilon khas Lombok

MAJUNYA pariwisata di NTB atau daerah lain di Indonesia berdampak pada seni dan kreativitas masyarakat. Bagi orang yang berjiwa seni, apapun bisa jadi uang dan menghasilkan produk-produk bernilai jual tinggi.

Semenjak Lombok menjadi salah satu tujuan wisata nasional, pertumbuhan kreativitas seni masyarakat juga tinggi. Sebut saja, seperti gerabah, ketak, anyaman bambu, kain tenun Sukarara, Pringgabaya,

patung dari kayu hingga gelang dan gantungan kunci berbahan baku nilon.
 
Gantungan kunci dari benang nilon, oleh-oleh khas Lombok
Adanya gelang dan gantungan kunci berbahan baku nilon dengan tulisan khas Lombok ini ingin menegaskan pada wisatawan nusantara dan mancanegara, jika pernah ke Lombok atau daerah lain di NTB. Apalagi, wisatawan bisa memesan langsung pada perajin atau pembuat gelang dan gantungan kunci sesuai nama atau daerah asal.

Namun, saat memesan gelang atau gantungan kunci, pemesan harus sabar, karena dalam proses pembuatannya membutuhkan waktu. Bagi para perajin yang ahli membuat, membutuhkan waktu hanya 15 hingga 20 menit membuat gantungan kunci atau gelang sesuai pesanan.
 
tunjukkan hasil produksi gantungan kunci dari nilon
Seperti Muhammad Taufan, salah satu perajin gelang dan gantungan kunci di Taman Narmada. Lombok Barat. Opan -- panggilan perajin asal Desa Presak Narmada ini membuat gelang atau gantungan kunci hanya dalam waktu singkat.

"Kalau ada wisatawan yang memesan gelang atau gantungan kunci dan kalau mau menunggu kami tetap layani," tuturnya pada Suara NTB di Taman Narmada, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, wisatawan lebih banyak yang membeli gelang atau gantungan kunci yang sudah jadi daripada memesan. Alasannya, gelang atau gantungan kunci yang dibeli atau sudah jadilebih murah. Sementara, kalau memesan produk dipatok lebih mahal, karena harus membuat secepatnya.

"Kalau mesan khusus, seperti tulis nama atau nama perusahaan lebih mahal. Yang sudah jadi, bisa dibeli Rp 10.000, tapi kalau mesan langsung jadi cukup Rp 15.000," terangnya. 

Diakuinya, harga gelang dan gantungan kunci nilon khas Lombok cukup diminati wisatawan domestik. Banyak wisatawan lokal membeli suvenir sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke daerah asal.

Jika beberapa tahun sebelumnya, perajin membuat gelang, gantungan kunci hingga bando.  Namun, akibat sepinya permintaan, bando kini jarang dibuat. Konsumen atau wisatawan domestik lebih memilih memesan gelang atau gantungan kunci, karena lebih sederhana dan tidak membutuhkan biaya besar. Kini bando berbahan baku benang nilon boleh dikata "tidak diproduksi" lagi, karena tidak adanya permintaan.

Meski demikian, para perajin tidak ambil pusing, karena permintaan gelang dan gantungan kunci cukup tinggi.

Selain itu, tuturnya, harga suvenir bagi wisatawan mancanegara berbeda dengan wisatawan lokal. Di mana, harga gelang dan gantungan kunci bagi wisatawan mancanegara lebih mahal dengan alasan tertentu. "Tapi mereka jarang ada yang beli. Kalau ada yang beli, hanya beberapa orang," akunya.

Untuk itu, pihaknya tidak terlalu mengandalkan penjualan suvenir dari wisatawan mancanegara, karena potensi pasarnya rendah. Lain halnya, dengan pengunjung lokal, baik dari Pulau Lombok maupun Indonesia, mereka lebih banyak membeli suvenir, baik suvenir khas lokal dan yang didatangkan khusus dari luar daerah.

Jika hari libur sekolah atau hari libur keagamaan, pengunjung di Taman Narmada juga meningkat. Kondisi ini berpengaruh pada penjualan suvenir seperti gelang dan gantungan kunci nilon khas Lombok.

Dalam sehari, gelang atau gantungan kunci yang laku bisa mencapai 100 barang. Tapi, kalau sepi, tidak ada yang laku. "Ini risiko yang harus dihadapi," tuturnya.

Opan mengaku, perajin yang membuat gelang dan gantungan kunci khas Lombok ini cukup banyak. Apalagi melihat prospek pasar gelang dan gantungan kunci cukup bagus, khususnya di beberapa objek wisata.

Potensi pasar dari kerajinan lokal ini sebagian besar merupakan pengunjung lokal, sehingga orderan atau pesanan terus meningkat. "Lebih baik kita bidik pasar lokal, tapi barang kita tetap laku," ujarnya. (marham)
Share:

VISITOR

YANG SAYANG ANDA LEWATKAN

Blog Archive